Desa Meskom, yang terletak sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Bengkalis di ujung barat sebelum Desa Perapat Tunggal, dikenal dengan julukan Kampung Zapin. Identitas ini melekat kuat karena keberadaan seni tari zapin tradisi yang masih lestari hingga kini, menarik banyak pengunjung yang ingin menyaksikan tarian bernuansa Islami ini.

Asal-usul Zapin di Bengkalis

Zapin merupakan kesenian yang berakar dari Arab dan menyebar ke seluruh wilayah Riau. Daerah pesisir seperti Siak dan Bengkalis menjadi tempat penyebaran awal, hingga akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat. Seni ini memadukan musik gambus, rebana, dan marwas dengan gerakan tari yang khas.

Perkembangan zapin di wilayah ini dimulai sekitar abad ke-16 atau 17 oleh Sayed Umar di Istana Siak Sri Indrapura. Pada masa kolonial Belanda, zapin yang tadinya eksklusif untuk kalangan istana mulai berkembang ke perkampungan. Di Bengkalis, Abdullah Noer dari Deli Medan mengembangkan seni ini sekitar tahun 1930-an dan mengajarkannya kepada Muhammad Yazid bin Tomel dari Meskom, sehingga lahirlah yang dikenal sebagai Zapin Meskom.

Tokoh Legendaris: Muhammad Yazid bin Tomel

Muhammad Yazid, yang lahir di Bengkalis tahun 1925, menjadi sosok sentral dalam pelestarian Zapin Meskom. Ia belajar zapin dari ayahnya, Tomel, kemudian mendalami ilmunya dari Abdullah Noer, Ares, dan Cik Muhammad pada pertengahan 1930-an. Proses belajarnya berlangsung secara sembunyi-sembunyi di kebun karena Belanda melarang masyarakat berkumpul yang dianggap bisa memicu perlawanan.

Pada tahun 1950-an, Yazid semakin dikenal bersama penari lainnya seperti Hasan, Harun, M. Yusuf, Hasan Matero, dan M. Ali. Mereka berkeliling kampung menampilkan zapin untuk meramaikan berbagai acara masyarakat. Untuk melestarikan seni ini, Yazid mendirikan Sanggar Yarnubih pada 1998, nama yang diambil dari singkatan Yazid, Nur, dan Ebih.

Dedikasi Yazid membuahkan hasil luar biasa. Ia menciptakan lebih dari 20 ragam gerakan zapin, termasuk Tari Zapin Cino Buto. Kiprahnya membawa Zapin Meskom tampil di berbagai kota seperti Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Johor dan Melaka di Malaysia. Berbagai penghargaan diterimanya, termasuk Anugerah Sagang Kencana, Anugerah Seniman Tradisi dari Dinas Kebudayaan Riau tahun 2005, dan Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tari Zapin dari Pemerintah RI tahun 2010.

Muhammad Yazid wafat pada 23 September 2010 di usia 85 tahun dan dimakamkan di Tanah Pekuburan Masjid Al Hadi Taqwa, Dusun Langgam, Desa Teluk Letak, Kecamatan Bengkalis.

Kampung Zapin di Masa Kini

Kini, Desa Meskom tetap menjaga warisan budaya ini dengan kental nuansa zapin klasiknya. Kampung Zapin tidak hanya menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga pusat pembelajaran bagi generasi muda Bengkalis dan Riau untuk mengenal dan menanamkan identitas budaya Melayu mereka.