Muhammad Yazid bin Tomel
penjaga denyut budaya Melayu Bengkalis yang dengan ketekunan, kesunyian perjuangan, dan kesetiaan pada adat berhasil menghidupkan Zapin sebagai jati diri masyarakat hingga lintas generasi.
Muhammad Yazid bin Tomel adalah tokoh sentral dalam pelestarian dan perkembangan Tari Zapin Meskom di Bengkalis, Riau. Namanya melekat kuat sebagai penjaga tradisi Zapin Melayu yang tidak hanya mempertahankan bentuk klasiknya, tetapi juga menanamkan nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Latar Belakang dan Proses Belajar
Muhammad Yazid bin Tomel lahir di Bengkalis pada tahun 1925 dan mulai mengenal seni Zapin dari lingkungan keluarganya. Dasar-dasar Zapin ia pelajari langsung dari ayahnya, Tomel, sebelum kemudian memperdalam kemampuannya dengan berguru kepada tokoh-tokoh Zapin pada pertengahan 1930-an, di antaranya Abdullah Noer dari Deli Medan, serta Ares dan Cik Muhammad. Dari para guru inilah Yazid memperoleh pemahaman mendalam mengenai teknik, irama, dan nilai budaya Zapin.
Pada masa penjajahan Belanda, proses belajar Zapin dilakukan dalam kondisi serba terbatas. Larangan berkumpul memaksa Yazid dan para gurunya berlatih secara sembunyi-sembunyi di kebun atau tempat terpencil, mempelajari ragam gerak secara bertahap. Situasi tersebut membentuk ketekunan, disiplin, dan kesungguhan yang kemudian menjadi landasan penting bagi perjalanan Muhammad Yazid sebagai maestro Zapin Meskom.
Peran dalam Pengembangan Zapin Meskom
Sekitar tahun 1950-an, Muhammad Yazid mulai dikenal luas di Bengkalis sebagai penari Zapin. Bersama penari lain seperti Hasan, Harun, M. Yusuf, Hasan Matero, dan M. Ali, ia tampil dari kampung ke kampung untuk memeriahkan berbagai hajatan masyarakat. Dari aktivitas inilah Zapin Meskom semakin mengakar sebagai seni rakyat, bukan hanya milik kalangan istana.
Kontribusi terbesarnya terletak pada penciptaan dan pengayaan ragam gerak Zapin. Muhammad Yazid diketahui menghasilkan lebih dari 20 bunga pecahan Zapin, termasuk Tari Zapin Cino Buto. Setiap ragam gerak yang ia susun sarat dengan makna moral, spiritual, dan sosial, mencerminkan nilai hidup masyarakat Melayu.
Sanggar Yarnubih dan Regenerasi
Kesadaran akan pentingnya regenerasi mendorong Muhammad Yazid mendirikan Sanggar Yarnubih pada tahun 1998. Nama sanggar ini merupakan singkatan dari Yazid, Nur, dan Ebih. Melalui sanggar tersebut, Zapin Meskom dipentaskan dan diajarkan secara berkelanjutan, baik kepada anak-anak maupun generasi muda.
Lewat Sanggar Yarnubih, Muhammad Yazid membawa Zapin Meskom tampil di berbagai daerah, seperti Riau, Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Johor, dan Melaka. Aktivitas ini memperluas pengenalan Zapin Meskom sekaligus menegaskan identitas budaya Bengkalis di tingkat regional dan internasional.
Penghargaan dan Pengakuan
Atas dedikasinya, Muhammad Yazid menerima berbagai penghargaan bergengsi. Ia dianugerahi Anugerah Sagang Kencana atas perjuangannya melestarikan seni tradisi Zapin Melayu. Selain itu, ia juga memperoleh Anugerah Seniman Tradisi dari Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 2005. Puncaknya, pada tahun 2010, ia dianugerahi Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tari Zapin dari Pemerintah Republik Indonesia.
Akhir Hayat dan Warisan Budaya
Muhammad Yazid bin Tomel wafat pada 23 September 2010 dalam usia 85 tahun. Ia dimakamkan di Tanah Pekuburan Masjid Al Hadi Taqwa, Dusun Langgam, Desa Teluk Letak, Kecamatan Bengkalis. Meski telah berpulang, warisannya tetap hidup.
Saat ini, Desa Meskom dikenal sebagai Kampung Zapin, simbol keberhasilan Muhammad Yazid dalam menanamkan Zapin sebagai identitas budaya. Karya, ajaran, dan nilai yang ia wariskan menjadikan Zapin Meskom bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan sarana pendidikan karakter dan jati diri Melayu.